<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="20097">
 <titleInfo>
  <title>Lubang Hitam Kebudayaan</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Budiman, Hikmat</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Yogyakarta</placeTerm>
  </place>
  <publisher>Kanisius</publisher>
  <dateIssued>2002</dateIssued>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>15 x 21 cm / 310 pg</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Kita kini hidup dalam sebuah era yang bergerak begitu cepat. Sejarah seperti sedang memutasikan diri menjadi kode-kode digital yang dimampatkan dalam media. Batas antara yang real dan tidak real makin tipis, dan kita hanyalah konsumen pelbagai citra. Bagian terbesar dari kita kini tinggal sebagai gerombolan massa, mayoritas bungkam, sebuah lubang hitam yang menyerap overproduksi energi dan informasi dari media, dan yang secara antusias melahap permainan memikat tanda-tanda yang tanpa akhir. Akibatnya lebih jauh, distingsi antara pelbagai budaya menyingkir, memberi jalan kepada gerombolan massa yang sangat besar yang bersimulasi dan bermain dengan&#13;
overproduksi tanda-tanda.&#13;
Dari hari ke hari, semakin sempit ruang dan kesadaran kita yang tidak bisa dijangkau oleh media dan budaya massa. Budaya dan media massa telah membentuk sebuah lubang hitam yang menghisap siapa pun ke dalamnya, tanpa pernah bisa keluar. Situasi ini direspon secara positif oleh penulis dengan secara kritis menganalisis relasi pertumbuhan pesat industri media massa dan resepsi besar-besaran masyarakat atas produk-produk budaya massa. Sambil konseptual mempertahankan budaya massa di hadapan para penghujatnya, buku ini juga berhasil memperlihatkan pelbagai kelemahan mereka yang secara menggebu-gebu membelanya.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>Komunikasi</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>Kebudayaan</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>Media Massa</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>Aspek Sosiologis</topic>
 </subject>
 <classification>306 / BUD / l</classification>
 <identifier type="isbn">9796728966</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>Perpustakaan Ordo Karmel Indonesia Indonesian Carmelite Order Library</physicalLocation>
  <shelfLocator>I26083</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">I26083-C1</numerationAndChronology>
    <sublocation>My Library</sublocation>
    <shelfLocator>I26083</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>11.85..jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>20097</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2011-02-14 10:09:58</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2023-06-21 12:10:04</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>