Image of Konsekuensi Filsafati Manunggaling Kawula Gusti Pada Arsitektur Jawa

Text

Konsekuensi Filsafati Manunggaling Kawula Gusti Pada Arsitektur Jawa



Konsep filsafat Manunggaling Kawula Gusti memiliki konsekuensi yang mendalam pada arsitektur Jawa, terutama dalam hal
tata ruang, orientasi, dan simbolisme yang mencerminkan hubungan harmonis antara manusia (kawula), alam, dan Sang Pencipta (Gusti). Arsitektur menjadi manifestasi fisik dari perjalanan spiritual untuk mencapai kesatuan tersebut.
Konsekuensi utama dari filosofi ini meliputi:
1. Tata Ruang dan Orientasi Kosmologis
Tata ruang bangunan Jawa, khususnya kompleks keraton dan rumah tradisional (Joglo), sangat dipengaruhi oleh kosmologi Jawa yang berupaya menciptakan mikrokosmos (dunia kecil) yang selaras dengan makrokosmos (alam semesta).

Poros Utara-Selatan: Tata letak bangunan sering mengikuti sumbu utara-selatan, yang dianggap sakral, merepresentasikan perjalanan hidup manusia menuju kesempurnaan.
Pusat (Pancer): Konsep "sedulur papat limo pancer" (empat elemen dengan satu pusat) tercermin dalam penempatan ruang inti atau bangunan utama yang menjadi pusat spiritual dan fisik dari kompleks hunian, di mana penghuni diingatkan akan Tuhan sebagai pusat kehidupan.
Harmonisasi Ruang: Adanya pembagian ruang yang jelas antara area publik (depan) dan privat (belakang), serta sakral dan profan, mencerminkan keseimbangan dikotomis dalam kehidupan, yang pada akhirnya harus mencapai harmoni.

2. Simbolisme dan Ornamen
Setiap elemen arsitektur mengandung makna filosofis yang menjadi pengingat visual akan hubungan manusia dengan Tuhan.

Bentuk Atap Joglo: Bentuk atap limasan atau joglo yang menjulang tinggi secara simbolis mengarah ke atas, melambangkan aspirasi spiritual manusia untuk mendekat kepada Yang Maha Kuasa.
Patung Loro Blonyo: Penempatan patung Loro Blonyo di dalem (ruang tengah/pribadi) rumah tradisional melambangkan kebahagiaan dan kerukunan, serta harmonisasi antara "Bapa Angkasa" dan "Ibu Bumi", yang mencerminkan keseimbangan alam semesta.
Material Alam: Penggunaan material alami seperti kayu dan bambu mencerminkan filosofi Memayu Hayuning Bawana, yaitu menjaga dan hidup berdampingan secara harmonis dengan alam.

3. Fungsi Bangunan sebagai Sarana Spiritual
Arsitektur Jawa tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai sarana untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan sejati melalui laku spiritual.

Tempat Meditasi: Beberapa elemen atau ruangan tertentu dirancang untuk mendukung aktivitas spiritual seperti meditasi atau sembahyang (sembah raga, sembah kalbu, sembah jiwa, dan sembah rasa) yang merupakan tahapan menuju manunggal.


Ketersediaan

I14653-C1I14653My LibraryTersedia

Informasi Detail

Judul Seri
Disertasi
No. Panggil
I14653
Penerbit Institut Teknologi Sepuluh Nopember : Surabaya.,
Deskripsi Fisik
21 x 29 cm / 301 pg
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
-
Klasifikasi
181.198 / ADI / k
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Subjek
Info Detail Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab

Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain




Informasi


DETAIL CANTUMAN


Kembali ke sebelumnyaDetail XMLKutip ini